Jumat, 03 Agustus 2012

Jusuf Kalla, Bapak Diplomasi Indonesia

Jusuf Kalla, siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini. Ia adalah mantan orang nomor dua Indonesia (wapres periode 2004- 2009). Sosok JK (sapaan bapak Jusuf Kalla) memang sangat fenomenal. Ia sering kali dianggap melakukan kecerobohan dalam usaha diplomasinya, namun usaha tersebut ternyata terbukti berhasil untuk mendamaikan pertikaian. Seperti pada penyelesaian konflik Aceh, Ambon, dan Poso. Bahkan menanggapi masalah perebutan Pulau Ambalat antara Malaysia dan indonesia, ia sempat mengeluarkan statement yang mengejutkan.  

"Najib… Ambalat itu masalah sensitif, itu bisa membuat kita perang. Kalau kita perang, belum tentu siapa yang menang. Tapi satu hal yang mesti you ingat, di Malaysia ini ada 1 juta orang Indonesia, 1000 orang saja saya ajari bom, dan mereka bom ini gedung-gedung di Malaysia maka habislah kalian."


Najib kemudian menjawab, "Pak Jusuf, tidak bisa begitu." "Makanya mari kita berunding, terus terang saya kadang tidak suka sama you punya negara, Buruh-buruh Ilegal dari Indonesia ditangkapi kayak binatang, sedangkan majikannya tidak ditangkap, padahal kalau ada buruh ilegal maka tentu ada juga majikan illegal. Setiap ada ilegal loging pasti orang Malaysia yang ambil, begitu ada kebakaran hutan mereka marah-marah, padahal hampir sepanjang tahun mereka menghirup udara segar yang dihasilkan oleh hutan-hutan di Indonesia, satu bulan saja ada kabut asap mereka marah marah. Dan juga setiap ada ledakan bom di Indonesia selalu orang Malaysia dalangnya"


Setelah itu, untuk menunjukkan sikap ketidak-sukaannya pada Malaysia,  JK memilih untuk tidak menginap di Kuala Lumpur. Ia memilih menginap di Kampong Bugis, kawasan Johor. Seperti dituturkan JK,  akhirnya Najib ikut juga ke Johor. Di atas mobil, dalam perjalanan menuju Johor Pak Najib membisikinya, "Kayaknya bapak terlalu keras tadi waktu berunding," dengan santainya JK menjawabnya, "kamu kan juga orang Bugis, kenapa kau tidak keras juga tadi?" mendengar itu Najib akhirnya ketawa.

Itulah salah satu manuver yang tegas yang dilontarkan pak JK. Jarang bahkan hampir tidak ada pe
mimpin Indonesia yang memiliki sikap tersebut. Berbicara masalah diplomasi, JK mempunyai andil yang sangat besar terhadap penyelesaian pertikaian di negeri ini. Di Poso, Sulawesi Tengah misalnya. Konflik ini bermula dari sebuah permasalahan kecil yang akhirnya meluas dan membakar segalanya di tanah poso.

Pada mulanya, dinihari, Jum'at 25 Desember 1998 yang bertepatan dengan bulan ramadhan dan juga perayaan natal, umat muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa di daerah Sayo, Kota Poso, dikejutkan oleh pertikaian antara Akhmad Ridwan, pemuda 21 tahun yang sedang terlelap di Masjid Darussalam mendadak diserang oleh tiga pemuda yang salah satunya diidentifikasi sebagai Roy Basalemba.


Akhmad Ridwan yang diserang berteriak minta tolong. Serentak, warga yang sedang terlelap dan menanti waktu untuk makan sahur segera mendatangi masjid dan kemudian mengejar pelaku pengeroyokan. Kabar pengejaran Roy dkk menyebar pagi itu juga. Roy yang beragama Nashrani dicari setelah sholat Jum'at dan diduga bersembunyi di Toko Lima, tempat penjualan minuman keras. Massa yang berkumpul menyebar kebeberapa titik. Sebagian mencarinya di Toko Lima, sebagian di panti pijat dan hotel-hotel, sebagian lagi di tempat billiar dan rumah makan.



Massa islam meningkatkan kesiagaan, massa Nashranipun bersiap-siap. Bermula dari kejadian tersebut, bentrokan terjadi dan meluas hingga keluar Poso. Massa dari luarpun berdatangan dan bergabung dengan massa. Menyadari kehancuran didepan mata, ulama-ulama dan pendeta-pendeta di Poso bertemu dan kemudian berpelukan guna meredakan emosi massa. Ketua umum MUI Poso, K.H Abd. Salam Thahir dan tokoh masyarakat Islam yang bergabung dengan pendeta bersepakat untuk tidak saling menyerang dibantu dengan keterlibatan pemerintah setempat. Namun, tokoh lain bernama Herman parimo melanggar kesepakatan. Bentrokanpun kembali pecah pada malam hari 27 Desember 1998 dan sedikitnya 81 rumah menjadi korban pengrusakan. Herman kemudian tertangkap di Makassar dan dihukum 14 tahun penjara. Tak lama kemudian, ia meninggal karena sakit.



Tidak Berhenti sampai disitu, kerusuhan ini kembali pecah pada 16 April 2000 dan memakan banyak korban. Pembakaran fasilitas ibadah, rumah warga, sampai pada pembunuhan sadis terjadi pada waktu itu. Untung saja ada perhatian dari Jakarta. Mentri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat pada waktu itu, Bapak Jusuf Kalla, merasakan kesedihan yang sangat mendalam dan berusaha untuk turun tangan dengan terjun langsung ke lokasi konflik. Meski berbahaya, ia tetap bekerja dalam suasana ATM (aman tapi mencekam). Jusuf Kalla beserta teman-temannya berhasil untuk mendekati kedua pihak yang bertikai dan membawanya ke Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.


Malino sendiri adalah sebuah tempat wisata yang berhawa dingin. Tanggal 20 Desember 2001, deklarasi perdamaian terbuat. Ikrar tersebut berisikan tentang perdamaian yang ditanda tangani oleh Jusuf Kalla. Ia berhasil mengikat kedua belah pihak untuk menghentikan pertikaian, mengubur rasa dendam, dan didudukkan dalam satu ruang satu meja dengan uraian air mata dan pelukan dan berikrar untuk menjaga kedamaian. 


Semoga saja negeri ini bisa hidup damai dalam pluralitas yang dimilikinya. Sosok JK adalah inspirasi yang sangat sangat patut untuk ditiru. Disaat negeri ini dilanda kekacauan dan perang saudara, sudah seharusnya pemimpin negeri ini turun tangan dan memperlihatkan kemampuan orasinya untuk perdamaian. Mudah-mudahan, pemimpin-pemimpin negeri atau siapa saja yang membaca postingan ini bisa tergoyahkan hatinya dan terinspirasi untuk menyebarkan benih-benih perdamaian ditanah Indonesia. Islam, Kristen, Hindu Buddha, dan Konguchu, satu dalam Indonesia. Bugis, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Ambon, satu dalam Indonesia. Kita bangsa yang bermartabat, kita bangsa yang mulia, kita bangsa plural yang demokratis, kita semua satu dalam INDONESIA... Merdeka!!!

Sumber: muhaiminabd.blogspot.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar